Pages - Menu

Selasa, 10 Juli 2012

APA SIH SEKOLAH UNGGULAN ITU?


Pada saat pelaksanaan UN dan UASBN masih belum di mulai hampir semua sekolah swasta maupun Negeri sudah membuka pendaftaran, mulai dari TK hingga jenjang SMA. Saat ini, bukan hanya menulis formulir pendaftaran saja yang harus dilakukan orang tua, tetapi mempersiapkan anak untuk tes masuk dan menyiapkan kocek untuk membayar uang pangkal jika anak diterima. Sekali lagi, walau UN atau UASBN nya belum berlangsung. 

Walaupun dirasakan tidak etis, tapi bukan soal system penerimaan siswa yang menjadi topik tulisan ini, karena toh saya tidak bisa merubah “kebijakan ikutan“ yang ada. Bisa dikatakan, saat ini adalah masa berburu sekolah, orang tua sibuk mencari informasi, mulai dari informasi yang didapat lewat internet, bertanya kepada orang tua lainnya atau datang langsung ke sekolah. Saya sendiri kebetulan menjadi salah satu sumber informasi sekolah yang “baik”, bukan karena saya lebih pintar dari orang tua lainnya, tapi semata-mata karena jumlah anak kami yang cukup banyak untuk sebuah keluarga jaman sekarang, sehingga anak-anak kami ada disemua jenjang pendidikan.


Sebelum kita membicarakan bagaimana mencari sekolah yang “baik”, kita bicarakan dulu sekolah “unggulan”.  Kenapa sekolah unggulan?  Karena sekolah unggulan pada umumnya sangat diminati oleh orang tua, walaupun jarak dari tempat tinggal ke sekolah jauh, tetapi para orang tua dengan suka rela menempuhnya,  demi anak mereka.  Padahal, definisi sekolah unggulan  sendiri seringkali dipertanyakan oleh pakar-pakar pendidikan.

Karena pakar pendidikan saja belum tentu dapat mendefinisikan apa itu sekolah unggulan, maka saya akan mendefinisikannya versi saya. 

Sekolah unggulan adalah, sekumpulan anak-anak  cerdas dari sononya, dikumpulkan pada satu sekolah kemudian di godog di dalamnya untuk menjadi lebih prima, demikian seterusnya hingga masuk perguruan tinggi.  Artinya sekolah hanya menerima input siswa yang sudah berprestasi, yang otomatis hasil outputnya juga akan baik. 

Atau, ada juga yang dimaksud dengan sekolah unggulan yaitu sekolah yang menawarkan fasilitas mewah dengan uang pangkal dan SPP yang tinggi. Selain itu,  metode belajarnya juga mempunyai “jurus” tersendiri, sehingga output yang dihasilkan sesuai dengan yang dijanjikan.

Dalam bukunya Thomas ArmstrongThe Best School; How Development Research Should Inform Educational Practice disebutkan dua wacana besar model sekolah. Pertama, sekolah Wacana Prestasi Akademik. Kedua, Wacana Perkembangan Manusia.

Dua model sekolah ini mempunyai karakter masing-masing. Menurut Armstrong model sekolah Wacana Perkembangan Manusia merupakan model yang baik. Amstrong menentang sekolah Wacana Prestasi Akademik karena menjadi salah satu penyebab hancur dan gagalnya pendidikan.

Dampak negatif sekolah Wacana Prestasi Akademik yaitu mendorong pengajaran hanya demi persiapan menghadapi ujian, mendorong siswa menyontek, mendorong manipulasi hasil ujian oleh guru dan pegawai administrasi, mengakibatkan tingkat stres yang berbahaya di kalangan pendidik dan siswa.
Sekolah Wacana Prestasi Akademik mengakibatkan munculnya kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan perkembangan anak di semua tingkatan sekolah, mulai dari prasekolah hingga sekolah atas. Anak kehilangan esensi belajar yang sesuai dengan perkembangan dirinya.
Anak didik dikondisikan untuk mengejar target akademik, yaitu untuk lulus ujian semata meski dengan banyak melakukan kecurangan. Berbeda dengan model sekolah Wacana Perkembangan Manusia yang mempunyai makna mengungkap atau membuka potensi yang terdapat dalam diri manusia bahkan mempunyai makna mengurai, membuka atau membebaskan manusia dari keterkungkungan, kerumitan atau rintangan.
Maka, inti pendidikan adalah bermakna dan memfasilitasi perkembangan manusia. Wacana Perkembangan Manusia lebih mengukur pertumbuhan pembelajaran di tengah pengalaman belajar itu sendiri.
Menyuarakan pilihan-pilihan berkelanjutan untuk memfasilitasi perkembangan, melengkapi lingkungan belajar yang aman, membangun kepercayaan dalam lingkungan belajar, dan menggunakan pendekatan untuk mewadahi pertumbuhan optimal. Thomas Armstrong menegaskan bahwa Wacana Perkembangan Manusia berakar pada tradisi humanisme; aliran pikiran filosofis yang mendukung harga diri dan nilai setiap manusia.
Setiap individu dipandang dan diakui sebagai manusia yang mempunya nilai penting. Keunikan pada setiap individu menjadi kekayaan dunia pendidikan yang berwawasan pada Wacana Perkembangan Manusia, dan tentunya mempunyai dampak positif.
Dampak positif model Wacana Perkembangan Manusia yaitu membuat siswa terlibat dalam kegiatan belajar dan pembelajaran yang membuat mereka lebih siap untuk turun ke dunia nyata. Membuat semua siswa berhasil dan berdiri di bidang kekuatannya masingmasing.
Siswa dapat mengembangkan kompetensi dan kualitas, akhirnya akan membantu dalam membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Wacana Perkembangan Manusia membantu memperbaiki masalah sosial yang mencemari remaja dalam budaya masa kini yang terkotak-kotak, membantu siswa menjadi dirinya sendiri.
Mengurangi masalah disiplin di sekolah, mendorong inovasi dan keragaman program belajar. Wacana Perkembangan Manusia, jika diimplementasikan pada program pendidikan di setiap jenjang pendidikan,maka untuk tingkatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diimplementasikan dalam bentuk permainan.
Permainan bagi anak adalah satu-satunya cara terbaik untuk memenuhi persyaratan perkembangan yang dapat ditempuh. Bermain adalah proses yang terus berubah (dinamis) dan bersifat multiinderawi, interaktif, kreatif, dan imajinatif. Pendidikan SD mengkhususkan kegiatan belajar untuk mengetahui alam semesta.
Kegiatan yang sesuai perkembangannya adalah ruangan kelas yang membuka dunia nyata, membaca,menulis, dan matematika yang berhubungan dengan penemuan dunia nyata. Bahan pelajaran sifatnya autentik, mengeksplorasi dunia nyata yang dipandu oleh guru dan belajar berdasarkan pertemuannya dengan dunia nyata.
Pada tingkatan SMP, proses pendidikan difokuskan pada perkembangan sosial, emosional dan meta-kognitif. Pada masa ini peserta didik dalam posisi remaja awal; masa sosial yang intens, ketika rasa ingin tahu untuk menjadi bagian dari sesuatu, komunitas, status sosial, dan kedekatan emosional memberikan konteks tempat bagi remaja dalam menemukan jati dirinya.
Maka kaum remaja ini membutuhkan; suasana aman di sekolah, komunitas belajar kecil, hubungan antar-orang dewasa (guru, orang tua, lingkungan) yang bersahabat, panutan yang positif, aktivitas seni yang ekspresif, perhatian pada kesehatan dan kebugaran mengingat pada usia tersebut akan mengalami perubahan pubertas.
Pada tingkat SMA siswa difokuskan pada hidup mandiri di dunia nyata. Siswa lebih difokuskan untuk kehidupan mereka setelah sekolah.
Nah mari kita kenali anak kita, apa yang terbaik untuk anak kita.

Allah SWT menciptakan makhluknya tidaklah sama, antara kakak dan adik masing-masing mempunyai keunikan tersendiri, bahkan sampai sepasang anak kembar pun pasti mempunyai perbedaan.

Mengapa kita harus memaksakan anak kita untuk mendapatkan nilai tinggi untuk pelajaran yang bukan menjadi bakat mereka?

Bagaimana jika cara berpikir orang tua yang dirubah, tidak lagi dengan istilah sekolah unggulan, tetapi “sekolah efektif”. Sehingga kalimatnya menjadi “saya akan mencari sekolah yang efektif bagi anak saya”. 

Mengapa demikian? Karena orang tua menyadari bahwa  mereka akan mencarikan sekolah yang menyenangkan bagi anak-anaknya.

Ciri-ciri sekolah efektif yaitu :
a.    Kepemimpinan, perhatian dan pemahaman Kepala Sekolah terhadap kualitas pengajaran
b.    Suasana yang nyaman dan tertib
c.    Semua siswa minimal menguasai ilmu tertentu
d.    Penilaian siswa atas dasar proses belajar, bukan hanya hasil akhir.

Selain itu, kita intip  kemampuan professional guru dengan menilai :
a.    Tingkat penguasaan guru terhadap bahan pelajaran
b.    Gaya atau seni dalam mengajar
c.    Pemanfaatan fasilitas belajar efektif dan efisien
d.    Pemahaman guru terhadap karakter kelompok atau individu siswa
e.    Kemampuan berdialog dengan siswa, sehingga tercipta lingkungan belajar yang menyenangkan.

Author : G

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar